Mau kelihatan berpenampilan hebat tetapi hemat? Nah, mungkin ini salah satu alternatif yang anda bisa pilih. Pakaian Cakar (singkatan dari cap karung) merupakan sebutan untuk barang bekas yang sudah tidak asing lagi bagi warga Pinrang dan Sulawesi Selatan. Bahasa kerennya pakaian "second hand" atau ada pula yang menyebutnya rombeng.
Dari sisi kualitas, cakar tidak diragukan lagi terlebih lagi sebagian besar cakar merupakan produksi dari pabrik atau rumah-rumah mode di Korea, Australia, Amerika, Eropa, dan Jepang. Beberapa merek terkenal seperi Armani, Corocodile, GAP, Gucci, Leonardo, Givency, Edwin, IVL, Adidas, Nike dan lain-lain bisa anda dapatkan dengan harga mulai dari dua puluh hingga seratus ribu rupiah saja. Itupun bisa lebih murah jika anda ahli dalam hal tawar menawar.
Di wilayah Pinrang sendiri, cakar sangat mudah ditemukan di pasar sore atau pasar kampung jaya dan beberapa tempat lainnya yang sifatnya tidak permanen. Beberapa waktu terakhir ini, sebuah bursa cakar dibuka di daerah Paleteang. Tepatnya di salah satu ruas jalanan dua jalur yang biasa dikenal dengan sebutan jalur dua. Jalanan dua jalur yang terletak di Paleteang ini memang tergolong jalanan yang sepi. Meski memiliki dua jalur yang cukup lebar, namun jalanan ini terkesan tanggung karena panjangnya cuma sekitar 1 kilometer dan bukan merupakan jalur angkutan umum, baik antar daerah maupun antar desa. Baru sekitar beberapa bulan yang lalu, satu jalur pada jalan ini telah di beton jadi kelihatan mulus dan lapang.
Para pedagang cakar disini biasanya membuka dagangannya mulai sore hingga jam sepuluh malam. Itupun tidak setiap hari, hanya ada pada hari Minggu dan Kamis. Meski awalnya terlihat sepi, namun seiring waktu bursa cakar Paleteang semakin ramai dikunjungi cakarholic (penggila cakar), baik untuk belanja ataupun hanya sekedar melihat-lihat. Beragam jenis cakar dijual disini, mulai dari kemeja, kaos oblong, sepatu, jaket, sweater, jas, boneka hingga pakaian dalam.
Para pengunjung juga tidak hanya datang maccakar (mencari cakar), tapi ada pula yang sengaja membawa anak-anaknya untuk bermain di area tersebut. Karena selain cakar, juga ada beberapa arena permainan dan pedagang lainnya yang turut meramaikan bursa cakar tersebut.
Tidak ada yang tau pasti sejarah awal mula cakar itu ada. Dari berberapa referensi yang kami temukan, baik itu dari artikel dan cerita dari mulut ke mulut, cakar dimulai sekitar tahun 80-an di daerah Pangkajene, kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Cakar mereka datangkan dari pulau Wanci (salah satu pulau utama di Wakatobi, Sulawesi Tenggara) melalui pelabuhan laut kota Pare-pare.
Di daerah asalnya sana, Sulawesi Tenggara, perdagangan pakaian bekas ini dikenal dengan istilah Pasar ‘RB’ (RB singkatan dari kata ‘Rombengan’). Karena para pedagangan harus membeli dalam bentuk bal (istilah pengepakan dalam karung) yang berisi sekitar 300an kemeja dalam kondisi disegel dari negara asalnya, maka kemudian pedagang dan masyarakat di Kabupaten Sidrap menyebutnya sebagai pakaian ‘Cap Karung’.
Memang di negara-negara yang cukup maju seperti di Amerika, Eropa dan Asia memiliki bank pakaian bekas. Biasanya dikelola oleh NGO (non goverment organization) atau yayasan yang bergerak di bidang sosial. Saya sendiri pernah membuat desain logo salah satu lembaga bank pakaian yang berada di Jerman. Pakaian yang mereka kumpulkan didonasikan kepada yang membutuhkan dan sebagian dijual di toko sosial mereka. Cuma, proses sehingga sampai ke Indonesia saya kurang begitu paham, apakah secara resmi atau ilegal.
Dalam perkembangannya kemudian, sebutan pakaian ‘Cap Karung’ itu disingkat sebagai ‘Cakar’. Istilah itu dianggap cocok, sebab awal dari perdagangan pakaian bekas ini di Sidrap, para pembeli seolah saling cakar berebut untuk memilih pakaian-pakaian yang cocok dan baik ketika baru dibuka dari bal-nya. Umumnya pembeli yang kemudian berdatangan dari berbagai kabupaten tetangganya Sidrap, seperti dari Kabupaten Wajo, Soppeng dan Pinrang antusias untuk membeli Cakar "buka baru" (baru dibuka langsung dari bal-nya).
Cakar sudah mengambil bagian tersendiri dalam kehidupan bermasayarakat di Sulawesi Selatan. Bahkan, beberapa teman dari luar daerah terkdang penasaran dengan cakar yang katanya sudah terkenal di daerah Sulawesi Selatan.
Dari sisi kualitas, cakar tidak diragukan lagi terlebih lagi sebagian besar cakar merupakan produksi dari pabrik atau rumah-rumah mode di Korea, Australia, Amerika, Eropa, dan Jepang. Beberapa merek terkenal seperi Armani, Corocodile, GAP, Gucci, Leonardo, Givency, Edwin, IVL, Adidas, Nike dan lain-lain bisa anda dapatkan dengan harga mulai dari dua puluh hingga seratus ribu rupiah saja. Itupun bisa lebih murah jika anda ahli dalam hal tawar menawar.
Di wilayah Pinrang sendiri, cakar sangat mudah ditemukan di pasar sore atau pasar kampung jaya dan beberapa tempat lainnya yang sifatnya tidak permanen. Beberapa waktu terakhir ini, sebuah bursa cakar dibuka di daerah Paleteang. Tepatnya di salah satu ruas jalanan dua jalur yang biasa dikenal dengan sebutan jalur dua. Jalanan dua jalur yang terletak di Paleteang ini memang tergolong jalanan yang sepi. Meski memiliki dua jalur yang cukup lebar, namun jalanan ini terkesan tanggung karena panjangnya cuma sekitar 1 kilometer dan bukan merupakan jalur angkutan umum, baik antar daerah maupun antar desa. Baru sekitar beberapa bulan yang lalu, satu jalur pada jalan ini telah di beton jadi kelihatan mulus dan lapang.
Para pedagang cakar disini biasanya membuka dagangannya mulai sore hingga jam sepuluh malam. Itupun tidak setiap hari, hanya ada pada hari Minggu dan Kamis. Meski awalnya terlihat sepi, namun seiring waktu bursa cakar Paleteang semakin ramai dikunjungi cakarholic (penggila cakar), baik untuk belanja ataupun hanya sekedar melihat-lihat. Beragam jenis cakar dijual disini, mulai dari kemeja, kaos oblong, sepatu, jaket, sweater, jas, boneka hingga pakaian dalam.
Para pengunjung juga tidak hanya datang maccakar (mencari cakar), tapi ada pula yang sengaja membawa anak-anaknya untuk bermain di area tersebut. Karena selain cakar, juga ada beberapa arena permainan dan pedagang lainnya yang turut meramaikan bursa cakar tersebut.
Awal Mula Cakar
Tidak ada yang tau pasti sejarah awal mula cakar itu ada. Dari berberapa referensi yang kami temukan, baik itu dari artikel dan cerita dari mulut ke mulut, cakar dimulai sekitar tahun 80-an di daerah Pangkajene, kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Cakar mereka datangkan dari pulau Wanci (salah satu pulau utama di Wakatobi, Sulawesi Tenggara) melalui pelabuhan laut kota Pare-pare.
Di daerah asalnya sana, Sulawesi Tenggara, perdagangan pakaian bekas ini dikenal dengan istilah Pasar ‘RB’ (RB singkatan dari kata ‘Rombengan’). Karena para pedagangan harus membeli dalam bentuk bal (istilah pengepakan dalam karung) yang berisi sekitar 300an kemeja dalam kondisi disegel dari negara asalnya, maka kemudian pedagang dan masyarakat di Kabupaten Sidrap menyebutnya sebagai pakaian ‘Cap Karung’.
Memang di negara-negara yang cukup maju seperti di Amerika, Eropa dan Asia memiliki bank pakaian bekas. Biasanya dikelola oleh NGO (non goverment organization) atau yayasan yang bergerak di bidang sosial. Saya sendiri pernah membuat desain logo salah satu lembaga bank pakaian yang berada di Jerman. Pakaian yang mereka kumpulkan didonasikan kepada yang membutuhkan dan sebagian dijual di toko sosial mereka. Cuma, proses sehingga sampai ke Indonesia saya kurang begitu paham, apakah secara resmi atau ilegal.
Dalam perkembangannya kemudian, sebutan pakaian ‘Cap Karung’ itu disingkat sebagai ‘Cakar’. Istilah itu dianggap cocok, sebab awal dari perdagangan pakaian bekas ini di Sidrap, para pembeli seolah saling cakar berebut untuk memilih pakaian-pakaian yang cocok dan baik ketika baru dibuka dari bal-nya. Umumnya pembeli yang kemudian berdatangan dari berbagai kabupaten tetangganya Sidrap, seperti dari Kabupaten Wajo, Soppeng dan Pinrang antusias untuk membeli Cakar "buka baru" (baru dibuka langsung dari bal-nya).
Cakar sudah mengambil bagian tersendiri dalam kehidupan bermasayarakat di Sulawesi Selatan. Bahkan, beberapa teman dari luar daerah terkdang penasaran dengan cakar yang katanya sudah terkenal di daerah Sulawesi Selatan.


