Tentu akan muncul pro dan kontra tentang isi dari kultwit berikut. Tapi, menurut saya ini merupakan salah satu sudut pandang yang cukup baik agar dunia pendidikan kita kedepannya lebih baik pula.
Berikut kultwit @partaisocmed tentang nasib Guru Honorer,
Anggaran pendidikan yang luar biasa besar (20% dari APBN), rupanya tidak serta merta meningkatkan kwalitas pendidikan kita
Ini antara lain disebabkan karena sebagian anggaran tsb lebih banyak diprioritaskan utk belanja gaji. Bukan utk siswa
Sehingga yg kita temui di lapangan adalah ironi. Banyak anak bangsa yg tidak bisa sekolah di tengah kehidupan guru yg makin makmur
Kualitas mendidik guru juga tidak meningkat sesignifikan kenaikan kesejahteraan mereka
Jadi teori yg mengatakan kualitas pendidikan akan meningkat jika gaji guru diperhatikan terbukti SALAH TOTAL
Sayangnya pendapat salah itu tak bisa diperbaiki dgn penurunan gaji guru yg sudah terlanjur naik sedemikian besar
Yg terjadi adalah guru2 yg "shock" dgn pendapatan barunya itu lebih fokus memikirkan gaya hidup dan terjerat kredit macam2 kebutuhan baru
Dan peningkatan kualitas mengajar pun menjadi prioritas terakhir yg mereka pikirkan setelah cicilan mobil barunya
Maka marilah kita lihat dg jujur apakah ada peningkatan kualitas mengajar yg signifikan dari guru2 yg alami peningkatan kesejahteraan itu?
Nah ini juga RT @naniheriyani: @PartaiSocmed termasuk tingkat perceraian yg tinggiNamun di tengah2 pesta pora anggaran pendidikan besar yg dinikmati sebagian guru PNS tsb. Ada guru2 lain yg didiskriminasikan
Mereka adalah guru bantu atau guru honorer atau guru sukwan
Apa yg terjadi pada guru honorer ini lebih layak disebut sebagai perbudakan model baru di tengah teman2nya yg sedang berpesta
Guru honorer banyak yg gajinya (honornya) jauh dibawah UMR, bahkan di bawah angka kelayakan hidup
Banyak guru honorer saat ini yg gajinya masih sekitar Rp 200 ribu sebulan. Bisa buat apa uang segitu?
Patut dipertanyakan apakah bidang pendidikan diluar jangkauan hukum? Sebab cara mereka menggaji guru honorer jelas melanggar UU
Selain dari besaran gaji (honor), cara penghitungannya pun merupakan kecurangan sistematis yg diterima secara umum
Aturan pemberian gaji guru honorer ini berbeda2 di beberapa daerah. Tapi pd dasarnya terbagi menjadi 3 model, yaitu:1. Jam-jaman.2. Harian.3. Bulanan.
Jadi model pengupahan mereka mirip buruh pabrik. Bedanya penghasilan guru honorer ini jauh dibawah upah buruh
Ketiga model penggajian diatas pada intinya sama saja. Maksudnya sama2 ngenesnyaGuru honorer yg digaji bulanan akan dihitung gajinya berdasarkan jam mengajarnya. Disini terjadi kelicikan yg direstui negara
Sebagai contoh, Pak Umar mengajar sebanyak 12 jam seminggu. Artinya dia mengajar/bekerja sebanyak 12 x 4 = 48 jam sebulanJika upah mengajar per-jam adalah 20 ribu, apakah Pak Umar digaji sebesar 48 x 20 ribu = 960 ribu sebulan?
Ternyata tidak. Yg dihitung hanyalah jumlah kerjanya seminggu saja. Jadi gaji Pak Umar cuma 20 ribu x 12 jam = 240 ribu
Lalu kemana jerih payah kerja 3 minggu sisanya? Rupanya ini sudah menjadi standard perhitungan penggajian guru honorer
Apakah kerja sebulan yg hanya dibayar seminggu ini bukan sebuah perbudakan? Ya, ini perbudakan model baru.
Lebih ironis lagi nasib miris para guru honorer ini terjadi di tengah peningkatan kesejahteraan guru PNS yg luar biasa
Lalu bagaimana dgn yg dibayar jam-jaman atau harian. Mereka memang dibayar penuh tiap jam mengajarnya. Tapi angkanya luar biasa kecilnyaIntinya ya sama saja semua model penggajian guru honorer ini melanggar UU ketenaga kerjaan.
Apabila perusahaan swasta bisa di obok-obok jika menggaji karyawannya dibawah standar. Mengapa negara justru melakukan pelanggaran ini?
Lalu bagaimana para guru honorer ini mempertahankan hidupnya? Berbagai cara mereka tempuh, mulai jadi pemulung sampai sambilan apa saja
Entah mengapa mereka tetap bertahan dgn sistem yg menindas ini. Bisa jadi krn mimpi diangkat suatu saat nanti, atau..
Atau memang tak punya pilihan lain, ataukah kecintaannya pada dunia pendidikan? Masing2 punya alasannya sendiri2.
Namun yg terjadi pada guru honorer kita adalah nyata2 perbudakan di depan mata yg direstui oleh negara.
Tentu kita tak ingin menjadikan guru2 kita manusia snob yg kaget dgn penghasilan yg tiba2 melonjak macam guru2 PNS tsb
Tapi kita juga tak boleh membiarkan para pendidik generasi penerus bangsa ini hidup dalam penindasan
Sebab baik guru PNS, guru swasta maupun guru honorer, mereka adalah pendidik generasi penerus bangsa ini
Sudah saatnya pemerintahan @jokowi_do2 lebih memperhatikan nasib guru honorer dibanding guru PNS yg sudah makmur2 itu
Setidaknya beri mereka gaji yg sesuai standard upah untuk pekerja pada umumnya. Tak berlebihan bukan?Sekali lagi gaji guru tidak ada hubungannya dgn kualitas mengajar mereka. Ini semata2 demi kemanusiaan.Sekian kultwit kami. Semoga mencerahkan dan menambah wawasan kita semua. Terimakasih.
Wah, cukup tragis juga nasib guru honorer jika membaca kultwit diatas. Guru honorer memang sudah seharusnya mendapat perbaikan kesejahteraan, demi kemanusiaan.
Namun, menurut saya tidak bisa pula digeneralisasi tentang pola hidup guru yang berstatus PNS, terlebih lagi dengan perilaku yang berkaitan peningkakat gaji yang diterimanya. Bahkan ada yang sudah sangat wajar dengan hal tersebut dan baru bisa sedikit menikmati kehidupan yang layak sebagai guru setelah berpuluh-puluh tahun mengabdi.
Saya sendiri pun bisa merasakan apa yang dirasakan orang tua saya yang kebetulan adalah guru PNS SD, dimana baru merasa sedikit lega (sertifikasi guru) kurang dari 5 tahun sebelum pensiun setelah puluhan tahun mengabdi menjadi seorang guru. Pencapaian itupun diperoleh dengan perjuangan luar biasa, mengingat ibu saya keukeuh hanya ingin melalui jalur normatif.
Saya sendiri pun bisa merasakan apa yang dirasakan orang tua saya yang kebetulan adalah guru PNS SD, dimana baru merasa sedikit lega (sertifikasi guru) kurang dari 5 tahun sebelum pensiun setelah puluhan tahun mengabdi menjadi seorang guru. Pencapaian itupun diperoleh dengan perjuangan luar biasa, mengingat ibu saya keukeuh hanya ingin melalui jalur normatif.
Belum lagi data tentang tingkat perceraian yang diambil sebagai sampel diatas. Itu merupakan kerja sebuah mesin pencari yang menemukan satu berita dengan kejadian yang sama namun beberapa sumber pemberitaan yang berbeda.
Tentunya, adanya perbaikan kesejahteraan bagi para guru, baik PNS maupun honorer kelak akan sebanding dengan peningkatan mutu dan kwalitas menendidiknya. Aamiin...
Bagaimana dengan pendapat anda?
Sumber kultwit lengkap: http://chirpstory.com/li/239572


